Setiap buku memiliki perjalanan lahirnya sendiri. Ada buku yang tumbuh dari kegelisahan terhadap sebuah persoalan besar, ada yang berangkat dari perjumpaan panjang dengan manusia, dan ada pula yang lahir dari pengalaman menemukan sesuatu yang pada mulanya tampak sederhana, tetapi perlahan memperlihatkan lapisan makna yang jauh lebih dalam. Buku ini berada pada perjalanan yang terakhir. Ia berangkat dari sebuah syi’ir yang telah lama hidup dalam ruang keberagamaan masyarakat Jawa yaitu Syi’ir Tanpo Waton.
Pada awalnya, mungkin mudah untuk melihat syi’ir hanya sebagai lantunan. Ia hadir dalam pengajian, majelis, ruang-ruang ibadah, rekaman, perjalanan, dan berbagai perjumpaan sehari-hari. Namun semakin lama seseorang mendengarnya, semakin sulit menganggapnya sekadar rangkaian kata yang dinyanyikan. Ada pesan spiritual di dalamnya, ada teguran moral, ada kritik terhadap kesombongan keberagamaan, dan ada ajakan untuk kembali menempatkan manusia dalam kesadaran akan keterbatasannya. Lebih dari itu, ada sebuah pertanyaan yang terus mengiringi perjalanan penulis yaitu bagaimana sebuah pesan yang lahir dalam bentuk sederhana dapat terus hidup dan menemukan tempat dalam kehidupan manusia yang berbeda-beda?
Pertanyaan tersebut membawa penulis pada perjalanan panjang untuk memahami sebuah syi’ir dengan hubungannya dalam sebuah kehidupan sosial yang beragam. Pembaca diajak memasuki sebuah perjalanan. Perjalanan itu dimulai dari pertanyaan tentang mengapa sebuah syi’ir dapat bertahan, kemudian bergerak menuju dunia tradisi yang melahirkannya, memasuki pengalaman masyarakat urban dan rural, mempertemukan dua horizon kehidupan, dan kembali kepada pertanyaan yang lebih luas tentang masa depan dakwah kultural.
Di dalam perjalanan tersebut, Syi’ir Tanpo Waton tidak diperlakukan hanya sebagai objek teks. Ia ditempatkan sebagai pintu masuk untuk melihat sesuatu yang lebih besar yaitu sebuah hubungan antara pesan keagamaan dan kehidupan sosial. Sebuah teks dapat memiliki makna yang kuat, tetapi makna itu tidak hidup sendirian. Ia membutuhkan manusia yang mendengar, mengingat, menafsirkan, dan kadang-kadang menemukan kembali dirinya di dalam pesan tersebut. Dengan kata lain, kehidupan sebuah teks tidak berhenti pada saat teks itu selesai diciptakan. Kehidupannya justru terus bergerak ketika ia memasuki pengalaman manusia.















